Jumat, 15 Maret 2013

ilmu sosial budaya dasar kebidanan



TUGAS MATA KULIAH
ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

CARA-CARA PENDEKATAN SOSIAL BUDAYA
DALAM PRAKTEK KEBIDANAN MELALUI PESANTREN


PENDEKATAN DALAM SISTEM PESANTREN

1.      PENGERTIAN

Pondok pesantren adalah lembaga Pendidikan Islam yang menggembangkan fungsi pedalaman agama, kemasyarakatan dan penyiapan sumber daya manusia.

2.      TUJUAN DAN SASARAN PONDOK PESANTREN

Bidan harus memiliki keterampilan professional agar dapat memberikan pelayanan kebidanan yang bermutu untuk memenuhi tuntutan kebutuhan rasional, agar bidan dapat menjalankan peran fungsiya dengan baik maka perlu adanya pendekatan social budaya yang dapat menjembati pelayanan pasien. Tercapainya pelayanan kebidanan yang optimal, perlu adanya tenaga bidan yang professional dan dapat diandalkan dalam memberikan pelayanan kebidanan berdasarkan kaidah-kaidah profesi, antara lain memiliki pengetahuan yang kuat, menggunakan pendekatan asuhan kebidanan. Bidan dapat menunjukan otonominya dan akuntabilitas profesi melalui pendekatan sosial dan budaya yang kuat. Bentuk-bentuk pendekatan yang dapat digunakan oleh bidan dalam pelayanan kesehatan sebagai berikut
a.       pendekatam social
b.      survai mawas diri
c.       musyawarah masyarakat pondok pesantren
d.      pelatihan
e.       pelaksanaan kegiatan
f.       pembinaan
Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan islam yang mengembangkan fungsi pendalaman agama, kemasyarakatan dan penyiapan sumber daya manusia. Melalui pedidikan agama, pendidikan formal, pendidikan kesenian.
Tujuan umum : tercapainya pengembangan dan pemantapan kemandirian pondok pesantren dan masyrakat sekitar dalam bidang kesehatan.
Tujuan khusus : tercapainya pengertian positif pondok pesantren dan masyarakat sekitarnya tentang norma hidup sehat, meningkatkan peran serta pondok pesantren dalam menyelenggarakan upaya kesehatan, terwujudnya keteladanan hidup sehat di lingkungan pondok pesantren.

3.      Pendekatan Sosial Budaya dalam praktek kebidanan melalui pesantren
Saat ini pesantren diharapkan dapat berperan aktif dalam upaya memberdayakan masyarakat menuju prilaku hidup bersih dan sehat, karena pondok pesantren dianggap mampu menjadi penggerak masyarakat baik dibidang agama, social maupun ekonomi.
Ketika pesantren mengaktifkan praktek kebidanan makaini berarti pesantren tidak hanya menjadi wadah yang menyampaikan pesan agamatetapi juga pesantren telah menyampaikan pesan kesehatan dan ini sesuai dengannilai-nilai agama islam yang kita anut, dimana agama menekankan kepada kitauntuk menjaga kebersihan dan kesehatan, karena merupakan bahagian dari iman.
Pondok Pesantren pada awal berdirinya mempunyai pengertian yang sederhana, yaitu tempat pendidikan santri-santri untuk mempelajari pengetahuan agama Islam di bawah bimbingan seorang Guru/Ustadz/Kyai dengan tujuan untui menyiapkan santri-santri menguasai Ilmu Agama Islam dan siap mengajarkan agama Islam dengan mendirikan Pesantren baru untuk memperbanyak jumlah kader dakwah Islamaiyahnya.
Pesantren merupakan tempat untuk mendidik agar santri-santri menjadi orang yang bertaqwa, berakhlak mulia serta memeiliki kecerdasan yang tinggi. Santri-santri yang berada di pondok Pesantren merupakan anak didik yang pada dasarnya sama saja dengan anak didik di sekolh-sekolah umum yang harus berkembang dan merupakan sumber daya yang menjadi generasi penerus pembangunan yang perlu mendapat perthatian khusus terutama kesehatan dan pertumbuhannya.
Permasalahan kesehatan yang dihadapi santri-santri tidak beda dengan permasalahan yang dihadapi anak sekolah umum bahkan bagi santri yang mondok akan bertambah lagi dengan masalah kesehatan lingkungan yang ada di pondok yang mereka tempati.
Berdasarkan hal tersebut di atas dituntut suatu peran aktif dari masyarakat dalam hal ini adalah Pesantren bekerjasam dengan pihak kesehatan melakukan pembinaan kesehatan bagi santri-santri yang ada sehingga terwujud pola perilaku hidup bersih dan sehat bagi para santri dan masyarakat Pondok Pesantren serta masyarakat lingkungannya.

4.      PANDANGAN AJARAN ISLAM TENTANG KESEHATAN
Uraian yang sederhana menyangkut ajaran agama Islam tentang kesehatan adalah merupakan  upaya pengkajian nilai-nilai yang telah  membudaya di lingkungan Pesantren yaitu nilai yang bersumber pada ajaran fiqih. Bertitik tolak dari tujuan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah SAW, yaitu penataan hal ihwal manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat dengan pandangan sepintas pada tubuh ajaran fiqih, maka dapat dilihat adanya garis besar dari pengamtan itu yakni :
1)      Rab’ul’ibadat, yang menata hubungan manusia dengan sang pencipta. Misalnya sholat, dituntut untuk selalu bersih, baik rohaninya maupun jasadnya. Kebersihan di dalam sholat merupakan syarat mutlak yang harus dilaksanakan karena kalau tidak bersih (suci), maka sholtnya tidak syah.

2)      Rub’ul’muamalat, yaitu masalah hubungan manusia dengan manusia. Dalam hubungan ini ada suatu rumus fiqh yang sangat terkenal di lingkugan Pondok {esantren yaitu yang disebut Alkalliyatul Khmas (Lima kepentingan dasar). Disebutkan kesehatan jiwa raga menempati posisi pokok> Hal tersebut sesuai dengan Hadist Rasulullah yang mentakan “Mu’min yang kuat lebih disukai dan disenangi oleh Allah dari pada mu’min yang lemah”.

3)      Rub’ul Munkahat, yang menata hubungan manusia dalam lingkungan keluarga. Islam mengajarkan dalm perkawinan hendaknya mencari pasangan yang sehat, dan menghindari nasab (keturunan) yang tidak sehat.

4)      Rub’ul jinayat, yang menata ketentraman dalam pergaulan yang memperhatikan ketentraman dari lingkungan (kesehatan lingkungan). Sebagai contoh dilarang buang hajat disemberang tempat, karena akan mengganggu kesehatan lingkungan.

Sehat dalam arti agama, yaitu terhibdar dari penyakit hati/rohaniyah meliputi unsure akal, nafsu, kalbu dan roh sekaligus terbibas dari penyakit jasmaniyah yang diakibatkan oleh penyalahgunaan fungsi farj (kelamin), hidung (menghirup dan mencium) kaki (yang mmengantarkan maksud dan tujuan), lidah (merasa dan mengecap), mata (melihat), perasa (perabaan dansentuhan), perut (penyimpanan dan pengatur makanan dan minuman), tangan (merasa, menyentuh dan memegang), telinga (mendengar).

Di dalam Al Qur’an banyak disebutkan tentang pengertian sehat/ kesehatan diantaranya yaitu :
·         As-sawiyyu : Kondisi tubuh yang sempurna, ditandai dengan berfungsinya seluruh organ tubuh secara prima seperti disebutkan dalam surah Maryam ayat 10 yang artinya : Zakariya berkata, “ Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”. Tuhan berfirman “ Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga mala, padahal kamu sehat”.
·         Sehat bisa juga diartikan terhindar dari penyakit atau lawan dari sakit. Bahasa populernya sehat wal’afiat seperti disebutkan dalam surah Shad ayat 34 yang artinya “ Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit). Kemudian ia bertaubat.”
·         Sehat dapat pula diartikan dengan sembuh setelah berobat, seperti ungkapan do’a Nabi Ibrahim as pada surah as-Syu’ara ayat 80 yang artinya “ Dan apabila aku sakit, maka Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku.”
Selain itu Rasullullah s.a.w bersabda yang artinya “Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat itu tepat guna, maka penyakit itu akan sembuh dengan seijin Allah ‘Azza wa jalla” (HR.Muslim (4/2204) dan Ahmad dari Jabir bin ‘Abdullah).
Cukup jelas dari uraian di atas bahwa dalam agama Islam kesehatan merupakan penjabaran yang nyata dari rahmat kasih sayang Allah yang meliputi segala-galanya dan mamadai risalah Nabi Besar Muhammad SAW, dan itulah sesungguhnya wajah dari Islam.

Berbagai aspek agama dalam memberikan pelayanan kesehatan terdiri dari upaya-upaya pelayanan kesehatan yang ditinjau dari segi agama, diantaranya :

A.    Upaya pemeliharaan kesehatan
Upaya dini yang dilakukan dalam pemeliharaan kesehatan dimulai sejak ibu hamil yaitu sejak janin di dalam kandungan. Hal tersebut bertujuan agar bayi yang dilahirkan dalam keadaan sehat begitu juga dengan ibunya. Kesehatan merupakan faktor utama bagi umat manusia untuk dapat melakukan/menjalani hidup dengan baik sehingga dapat terhindari dari berbagai penyakit dan kecacatan. Ada beberapa langkah yang dapat memberikan tuntunan bagi umat manusia untuk memelihara kesehatan yang dianjurkanoleh agama antara lain :
1.        Makan makanan yang bergizi
2.        Menjaga kebersihan (Hadist mengatakan : kebersihan sebagian dari       iman)
3.        Berolah raga
4.        Pengobatan diwaktu sakit

B.     Upaya pencegahan penyakit
Dalam ajaran agama pencegahan penyakit lebih baik dari pada pengobatan di waktu sakit.
Adapun upaya-upaya pencegahan penyakit antara lain:
1.          Dengan pemberian imunisasi. Imunisasi dapat diberikan kepada bayi dan balita, ibu hamil, WUS, murid SD kelas 1 sampai kelas 3.
2.          Pemberian ASI pada anak sampai berusia 2 tahun. (Surah Al-Baqarah ayat 233). Ayat tersebut pada dasarnya memerintahkan seorang ibu untuk menyusui bayinya dengan ASI sampai ia berusia 2 tahun.
3.          Memberikan penyuluhan kesehatan. Dapat dilakukan pada kelompok pengajian, atau kelompok-kelompok kegiatan keagamaan lainnya.




5.      POKOK-POKOK KEGIATAN UPAYA KESEHATAN SANTRI
Untuk mendapatkan hasil guna dan daya guna yang optimal sehubungan dengan peran serta Pesantern untuk melakukan pembinaan kesehatan santri-santri diperlukan upaya-upaya yang meliputi :

Upaya Promotif :
1)      Pelatihan kader kesehatan Pondok Pesantern yaitu kegiatan pelatihan santri-santri yang berada di Pondok Pesantren untuk menjadi kader kesehatan yang akan membantu kegiatan pelayanan kesehatan di Pondok Pesantren tersebut.
2)      Penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan dan pihak Pondok Pesantren tentang pesan-pesan kesehatan guna meningkatkan pengetahuan sikap dan perilaku santri dan masyarakat Pondok Pesantren mengenai kesehatn jasmani, mental dan social.
3)      Perlombaan bidang kesehatn yaitu kegiatan yang sifatnya untuk meningkatkan minat terhadap kegiatan kesehatn di Pondok Pesantren, misalnya lomba kebersihan, lomba kesehatan dan lain-lain.
Upaya Preventif :
1)      munisasi , yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pihak kesehatn dibantu pihak Pondok Pesantern dalam rangka pencegahan terhadap penyakit tertentu pada santri-santri yang masih berusia sekolah, misaln ya imunisasi DT dan TT pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
2)      Pemberantasan nyamuk dan sarangnya, adalah kegiatan pencegahan penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk dengan jenis kegiatan pemberantasan sarang nyamuk yang dilaksanakan oleh santri dan petugas serta pihak Pondok Pesantren.
3)      Kesehatan lingkungan, yaitu suatu kegiatan berupa pengawasan dan pemeliharaan lingkungan Pondok Pesantren berupa tempat pembuangan sampah, air limbah, kotoran dan sarana air bersih. Kegiatan ini bertujuan guna meningkatkan kesehatan lingkungan Pondok Pesantren.
4)      Penjaringan kesehatan santri baru guna mengetahui status kesehatan dan sedini mungkin menemukan penyakit yang diderita para santri.
5. Pemeriksaan berkala guna mengevaluasi kondisi kesehatan dan penyakit para santri di Pondok Pesantren yang dialksanakan oleh petugas kesehatn dibantu pihak Pondok Pesantren.

Upaya Kuratif dan rehabilitatif :
1)      Pengobatan dilakukan oleh petugas kesehatan terhadap santri dan masyarakat Pondok Pesantren yang sakit yang dirujuk pihak Pondok Pesantren.
2)      Rujukan kasus yaitu kegiatan merujuk santri dan mayarakat Pondok Pesantren yang mmengidap penyakit tertentu ke fasilitas rujukan legih lanjut untuk mencegah penyakit berkembang lebih lanjut.
Peran serta lain yang biasanya dilakukan oleh pihak Pondok Pesantern adalah dalam hal pelayanan gizi di Pondok Pesantren dengan cara :
1)      Pemantauan status gizi masyarakat Pesantren dengan kegiatan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.
2)      Pemanfaatan halaman/pekarangan, yaitu memanfaatkan lahan untuk pertanian atau perikanan/peternakan guna kelengkapan gizi santri.
3)      Penanggulangan masalah gizi. Kegiatan bekerja sama dengan pihak kesehatan dalam rangka mengatasi masalah gizi utama (Gaki atau gangguan akibat kekurangan iudiom, Anemia gizi besi, Kurang Energi Protein, Kekurangan vitamin A).
4)      Pengelolaan makanan memenuhi syarat kesehatan

Masalah lain yang juga berhubungan dengan peran serta Pondok Pesantren guna meningkatkan derajat kesahatan masyarakat Pondok Pesantern adalah tentang kesehatan lingkungan di Pondok Pesantren yang meliputi :
1)      Lingkungan dan bangunan pondok Pesantren haruslah dalam keadaan bersih tersedia sarana sanitasi yang memadai dan memenuhi syarat kesehatan., bangunan yang kukuh.
2)      Tata Ruang, sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan.
3)      Konstruksi bangunan sesuai dengan persyaratan kesehatan.
4)      Kamar/ruang cukup untuk dihuni oleh santri dan sesuai dengan ketentuan kesehatan.
Keterlibatan Pondok Pesantren dalam hal kesehatan yang lain adalah tersedianya Pos Obat Desa (POD). Pos Obat Desa yang dimaksud adalah suatu tempat dimana masyarakat warga Pondok Pesantren yang sakit dapat dengan mudah memperoleh obat untuk mengobati santri dengan murah dan bermutu. Obat-pbat yang dipakai adalah obat-obat yang diperbolehkan yaitu sesuai dengan letentuan dari pihak kesehatan. Pengelola POD adalah kader yang telah dilatih yang berada di Pondok Pesantren.

6.      POSKESTREN (pos kesehatan pesantren)

Poskestren adalah salah satu wujud upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) di lingkungan pondok pesantren, dengan prinsip dari, oleh dan untuk warga pesantren, yang mengutamakan pelayanan promotif (peningkatan) dan preventif (pencegahan) tanpa mengabaikan aspek kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan) dengan binaan puskesmas setempat.

Poskestren merupakan wujud partisipasi masyarakat pondok pesantren dalam bidang kesehatan. Biasanya dalam poskestren ini muncul beberapa kegiatan antara lain:

a.       Pos obat pondok pesantren (POP)

b.      Santri Husada (kader kesehatan di kalangan perpustakaan santri).

c.       Pusat informasi kesehatan berupa kesehatan dan ceramah kesehatan secara berkala, bekerjasama dengan puskesmas setempat.

d.      Upaya kesehatan lingkungan di sekitar pondok pesantren.

Dengan berdirinya Poskestren, bagian kesehatan juga merasakan berbagai kemudahan dalam menangani pasien serta mudah dalam mengontrol obat-obatan yang tersedia.  Agus Setiawan mengatakan, kebutuhan akan obat sangat penting bagi bagian yang diketuainya tersebut, karena biasanya para santri akan lekas sembuh dengan meminim obat yang telah direkomendasikan oleh dokter.

 

Tujuan Poskestren :

Meningkatnya pengetahuan warga pondok pesantren dan masyarakat sekitarnya tentang kesehatan.

·         Meningkatnya sikap dan perilaku hidup bersih dan sehat bagi warga pondok pesantren dan masyarakat sekitarnya.

·         Meningkatnya peran aktif warga pondok pesantren dan masyarakat sekitarnya dalam penyelenggaran upaya kesehatan.

·         Terpenuhinya pelayanan kesehatan dasar bagi warga pondok pesantren dan masyarakat sekitarnya.

·         Mengetahui faktor risiko berbagai masalah kesehatan

 

Sasaran

·         Warga pondok pesantren

·         Masyarakat di lingkungan pondok pesantren

·         Tokoh masyarakat

·         Petugas kesehatan

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar